Banyak orang yang berusaha untuk mendefinisikan apa itu "MUNAFIK".
Setiap denger kata ini, anak muda pasti langsung menuju pada pikiran tentang seseorang yang pandai bersilat lidah sama teman-temannya, kayak pura-pura baik sama seseorang yang dia nggak suka. Atau tentang orang yang nggak bisa buktiin omongannya sendiri.
Dalam bahasa inggris, ada 2 kata yang bisa mendefinisikan MUNAFIK sendiri, yaitu "hypocrite" dan "two-faced". Sebenernya sekilas bisa memiliki makna yang sama, tetapi sebenernya dua kata ini bisa menjadi dasar gimana munafik itu sendiri digolongkan.
Hypocrite itu adalah suatu sifat dimana seseorang, secara tak sadar sih biasanya, sering memberikan wejangan atau perkataan mulia sama teman-temannya, berupa anjuran, nasihat, petunjuk hidup, tetapi dia sendiri justru melanggar filosofi atau perkataannya sendiri. Contohnya gini, kamu punya temen yang selalu bilang, "jangan nge gosip ah, nggak baik." Tapi dia sendiri adalah orang yang paling semangat kalau temen-temennya lagi ngerumpi.
Sedangkan, two-faced, ya sesuai namanya lah, adalah orang-orang bermuka dua yang gemar memakai topeng tentunya. Mereka ini mungkin sering dikejar kejar agensi sinetron karena pinter akting. Mereka bisa mengubah sikap atau bahkan kayak bunglon, menyesuaikan diri dengan siapa dia berbicara, jadi pendapat orang tentang dia bisa berbeda-beda. Misalkan, di depan si A, dia sosok yang ramah, sopan, mungkin karena si A itu anak beken yang dia agak takuti, tapi kalau di depan B, dia berubah jadi sok eksis, sok iye. sok ide atau sok-sokan lainnya deh , atau di depan sahabat-sahabatnya ia bisa aja ngomongin kejelekan si A, orang yang dia bela-belain sampe harus berperilaku unyu dan baik. Paling parahnya nih, kalau udah tingkat dewa, bisa aja dia saling jelek-jelekin anggota geng nya sendiri ke orang lain *ups*
Meski agak beda, tapi ada satu hal yang menjadi persamaan kedua tipe ini. Yaitu dimana seseorang pasti nggak bisa berperilaku dengana apa yang ada di hati dan pikirannya. Alasannya juga bisa ada dua, loh. Satu karena pencitraan, satu lagi karena ia memang pengen jaga perasaan orang lain.
Gak pengen munafik, gue sebenernya nggak suka bersikap kayak gini, tetapi gue pernah kok. Gue pernah pura-pura friendly sama orang yang gue nggak suka, cuman supaya dia nggak merasa nelangsa aja. Yah, gue juga sebenernya nggak mau juga kalau ada orang lain yang bersikap demikian sama gue, rasanya kan kayak ngeboongin gitu. Tapi, nggak bisa dipungkiri kalau terkadang kita harus begitu, dengan diam-diam menyimpan perasaan tidak suka begitu memang nggak sehat sih, tapi kalau masalahnya cuma sepele, mungkin karena dia agak cerewet, kita harus tetep maklumin kan? Dengan demikian kita bisa belajar untuk memaafkan juga.
Tapi... kalau udah menyangkut pencitraan nih.... itu yang kayaknya udah berat deh. Contohnya, kamu bersikap baik sama semua orang karena pengen eksis atau dianggap beken, termasuk sama orang yang kamu nggak begitu suka sampai orang yang kamu bencinya udah akut parah bener, deh. Dengan demikian kamu berharap agar semua pihak menilai kamu "bersih" karena kamu berusaha untuk memihak siapapun.
Padahal, siapa yang sebenernya rugi sih? Ya, mungkin kamu pikir itu safe dan sah sah aja selama NGGAK KETAHUAN, kan? Dan sekarang pikir, siapa yang kamu boongin? Nggak cuma temen-temen kamu, kamu sendiri udah ngeboongin diri kamu sendiri karena kamu membiarkan jati diri dan karakter kamu nggak tampak dan berkembang, sebab kamu akan selalu menjadi sosok yang berbeda bagi orang yang satu dengan yang lain. Kamu bagi si A berada di pihaknya untuk melawan B, namun bagi B kamu adalah kawan untuk menyerang A. Jamin deh, kalau suatu saat kamu seperti tupai yang jatuh dari lompatan tingginya, nggak ada lagi yang bakal percaya sama kamu. Siapa yang hidupnya paling menyedihkan? ;)
Gue juga nggak ahli mempraktekkan ini, tetapi sebelum kita dewasa dan sebelum karakter ini tertanam kuat, cobalah bijak menghadapi konflik. Nggak perlu menyalakan api, kalau ada temen yang lagi kesel, ya jangan siram minyak tanah lagi. Blak-blakan kalau perlu, kamu ada di pihak mana. Pilih pihak yang benar. Kalau kamu merasa temen kamu itu salah, ya nasihati, itu tugas seorang sahabat kan? Kalau ada yang menjelek-jelekkan sahabat kamu, kamu tega untuk ikut bersama komplotan mereka?
Satu hal yang gue pegang teguh hari ini adalah, orang yang baik akan selalu menang. Memang kemenangan itu nggak selalu mudah. Boleh ketawa deh, gue udah nonton banyak film yang mengangkat pesan ini, dan meski gue terlihat seperti muluk-muluk, tetapi gue percaya mereka yang benar akan selalu menang, karena kejahatan itu seperti kentang yang dibawa kemana-mana, suatu saat akan busuk dan baunya pasti akan tercium.
jadi kalau kamu cukup menyayangi dirimu sendiri, janganlah menyia-nyiakan hidup untuk hal yang merugikan diri dan orang lain. masih belum terlambat kok untuk berubah :)
Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. Yakobus 1:8
Showing posts with label God. Show all posts
Showing posts with label God. Show all posts
Friday, March 1, 2013
Monday, August 13, 2012
RESULT vs PROGRESS
Finally... setelah sekian lama hampir tenggelam di lautan buku, gue akhirnya bisa nge blog, ngeluapin semua uneg-uneg yang penuuuuuuuuuuh banget di kepala.
Jujur aja hari ini I feel terrible, worn out and even I don't want to explain why. Ditampar, jatuh, keinjek injek dan merasa kayak loser.
Gue kecewa, karena my efforts are useless. Gue usaha setengah mati, nggak ada yang tahu, tapi nyatanya, gue gagal (this time), dan nggak ada yang mau tahu.
Hidup itu menyakitkan, atau nggak adil ya?
Gue tahu, Tuhan punya rencana, dan tahu porsi yang tepat untuk umat-Nya, meski di mata kita nggak adil, tapi Ia udah membaginya sama rata. Dan gw bukan bilang kalo Tuhan nggak adil.... hiduplah yang nggak adil, manusia yang nggak adil.
Kenapa usaha gue yang begitu besar, nggak ada yang peduliin, "hanya" karena gue gagal memberi result yang memuaskan? Gue gak minta apa-apa, setidaknya ada yang bersedia memberi gue semangat dan keyakinan kalo gw masih punya hari esok, bukannya makin menenggelamkan gue dalam kesedihan. Segitu kejamkah sifat asli manusia?
Mungkin....kalian pasti juga pernah ngerasa yang sama, udah belajar setengah mati, siang-malem, pagi-sore, tapi malah mendapat hasil yang betul-betul mengecewakan, di luar dugaan.
Sebenernya, apa yang membuat manusia lebih menghargai result daripada progress? Gue sebenernya bingung, orang-orang terpelajar, guru, bahkan orangtua kita seringkali bilang :" PROSES itu penting, lebih penting dari apapun, jangan lihat hasilnya, tapi PROSES!" Nyatanya, hal itu cuma omongan belaka. Lo dapet nilai jelek, terus guru lo bakal percaya kalo lo bilang "SAYA BELAJAR MATI-MATIAN BU!". Jarang bangeeeeet yang bisa mengerti keadaan lo, sisanya bakal ngasih lo sesi ceramah singkat yang malah menurunkan confidence lo sendiri.
Gue tahu, ini pasti dikarenakan budaya kita yang memang lebih MENYUARAKAN atau lebih tepatnya MEMBANGGKAN suatu hasil daripada proses, mereka pikir bahwa suatu proses yang baik akan mendatangkan hasil yang baik pula, ya kalimat matematikanya ya seperti ini: PROSES BERBANDING LURUS DENGAN HASIL. Contohnya, selama ini kita menggunakan ijazah untuk melihat keberhasilan seseorang di masa sekolah, begitu liat ada yang NEM nya tinggi, kebanyakan dari kita langsung berasumsi kalau mereka memiliki 3 tahun masa sekolah yang baik, prestasi mulus dan lancar. Padahal, siapa yang tahu? Banyak kok kejadian anak-anak yang waktu sebelum UAN nilainya acakadut, terus pas mau deket-deket UAN mereka fighting, belajar giat sampe akhirnya bisa jadi nomer 1. Dan ada juga orang yang dari kelas 1 nilainya mulus-mulus, tapi pas UAN malah bisa nggak lulus! Darimana kita bisa tahu kalo result mereka benar-benar menggambarkan proses? Oke untuk case pertama kita bisa melihat kalau proses yang dilakukannya itu terjadi secara instan, karena memang adanya keinginan untuk lulus. Terus, untuk case ke dua, memang dia gagal di UAN, tapi apa kita bisa nge-judge kalo ia bodoh? Kalau ia selama ini nggak serius sekolah?
Ada beberapa faktor yang membuat suatu proses justru berlawanan sama result, dulu guru SMP gue suka bilang itu namanya FAKTOR X. Contoh: masalah psikologis, kurangnya confidence, kondisi fisik, dan lainnya. Dan faktor-faktor ini memang seringkali dijadikan alasan atas kegagalan seseorang. Tapi siapa yang tahu, siapa yang dapat menyangka dan siapa yang INGIN mengalami hal-hal tersebut? Kadang faktor-faktor itu datangnya tak terduga, lalu siapa yang mau disalahkan?
Disini gue bukannya mau belain diri gue sendiri, terlebih karena GUE KECEWA karena merasa nggak ada yang bisa mengerti, memahami dan mempercayai kalo gue BERUSAHA. Gue cuma mau menggambarkan kalau sekarang ini manusia semakin nggak menghargai progress, karena ya seperti gue bilang, paradigma mereka udah dikuasai oleh keyakinan bahwa suatu hasil yang baik berasal dari proses yang baik pula.
Gue cuma mau tanya,
kalau misalkan kalian ada di posisi, dimana kalian udah berusaha, berdoa, berserah,
terus jatuh, gak berhasil (meski untuk kali itu saja),
bisakah kalian mencari siapa yang salah?
Diri sendiri? Padahal kan udah usaha. Tuhan? Nggak mungkin.
Terus siapa yang salah?
Mungkin jawabannya cuma satu.
Itulah rencana Tuhan, He plans, He decides as His will upon us to be fulfilled. Mungkin kita harus mengambil pelajaran..... ya, seperti yang gue lakukan sekarang.
Jujur aja hari ini I feel terrible, worn out and even I don't want to explain why. Ditampar, jatuh, keinjek injek dan merasa kayak loser.
Gue kecewa, karena my efforts are useless. Gue usaha setengah mati, nggak ada yang tahu, tapi nyatanya, gue gagal (this time), dan nggak ada yang mau tahu.
Hidup itu menyakitkan, atau nggak adil ya?
Gue tahu, Tuhan punya rencana, dan tahu porsi yang tepat untuk umat-Nya, meski di mata kita nggak adil, tapi Ia udah membaginya sama rata. Dan gw bukan bilang kalo Tuhan nggak adil.... hiduplah yang nggak adil, manusia yang nggak adil.
Kenapa usaha gue yang begitu besar, nggak ada yang peduliin, "hanya" karena gue gagal memberi result yang memuaskan? Gue gak minta apa-apa, setidaknya ada yang bersedia memberi gue semangat dan keyakinan kalo gw masih punya hari esok, bukannya makin menenggelamkan gue dalam kesedihan. Segitu kejamkah sifat asli manusia?
Mungkin....kalian pasti juga pernah ngerasa yang sama, udah belajar setengah mati, siang-malem, pagi-sore, tapi malah mendapat hasil yang betul-betul mengecewakan, di luar dugaan.
Sebenernya, apa yang membuat manusia lebih menghargai result daripada progress? Gue sebenernya bingung, orang-orang terpelajar, guru, bahkan orangtua kita seringkali bilang :" PROSES itu penting, lebih penting dari apapun, jangan lihat hasilnya, tapi PROSES!" Nyatanya, hal itu cuma omongan belaka. Lo dapet nilai jelek, terus guru lo bakal percaya kalo lo bilang "SAYA BELAJAR MATI-MATIAN BU!". Jarang bangeeeeet yang bisa mengerti keadaan lo, sisanya bakal ngasih lo sesi ceramah singkat yang malah menurunkan confidence lo sendiri.
Gue tahu, ini pasti dikarenakan budaya kita yang memang lebih MENYUARAKAN atau lebih tepatnya MEMBANGGKAN suatu hasil daripada proses, mereka pikir bahwa suatu proses yang baik akan mendatangkan hasil yang baik pula, ya kalimat matematikanya ya seperti ini: PROSES BERBANDING LURUS DENGAN HASIL. Contohnya, selama ini kita menggunakan ijazah untuk melihat keberhasilan seseorang di masa sekolah, begitu liat ada yang NEM nya tinggi, kebanyakan dari kita langsung berasumsi kalau mereka memiliki 3 tahun masa sekolah yang baik, prestasi mulus dan lancar. Padahal, siapa yang tahu? Banyak kok kejadian anak-anak yang waktu sebelum UAN nilainya acakadut, terus pas mau deket-deket UAN mereka fighting, belajar giat sampe akhirnya bisa jadi nomer 1. Dan ada juga orang yang dari kelas 1 nilainya mulus-mulus, tapi pas UAN malah bisa nggak lulus! Darimana kita bisa tahu kalo result mereka benar-benar menggambarkan proses? Oke untuk case pertama kita bisa melihat kalau proses yang dilakukannya itu terjadi secara instan, karena memang adanya keinginan untuk lulus. Terus, untuk case ke dua, memang dia gagal di UAN, tapi apa kita bisa nge-judge kalo ia bodoh? Kalau ia selama ini nggak serius sekolah?
Ada beberapa faktor yang membuat suatu proses justru berlawanan sama result, dulu guru SMP gue suka bilang itu namanya FAKTOR X. Contoh: masalah psikologis, kurangnya confidence, kondisi fisik, dan lainnya. Dan faktor-faktor ini memang seringkali dijadikan alasan atas kegagalan seseorang. Tapi siapa yang tahu, siapa yang dapat menyangka dan siapa yang INGIN mengalami hal-hal tersebut? Kadang faktor-faktor itu datangnya tak terduga, lalu siapa yang mau disalahkan?
Disini gue bukannya mau belain diri gue sendiri, terlebih karena GUE KECEWA karena merasa nggak ada yang bisa mengerti, memahami dan mempercayai kalo gue BERUSAHA. Gue cuma mau menggambarkan kalau sekarang ini manusia semakin nggak menghargai progress, karena ya seperti gue bilang, paradigma mereka udah dikuasai oleh keyakinan bahwa suatu hasil yang baik berasal dari proses yang baik pula.
Gue cuma mau tanya,
kalau misalkan kalian ada di posisi, dimana kalian udah berusaha, berdoa, berserah,
terus jatuh, gak berhasil (meski untuk kali itu saja),
bisakah kalian mencari siapa yang salah?
Diri sendiri? Padahal kan udah usaha. Tuhan? Nggak mungkin.
Terus siapa yang salah?
Mungkin jawabannya cuma satu.
Itulah rencana Tuhan, He plans, He decides as His will upon us to be fulfilled. Mungkin kita harus mengambil pelajaran..... ya, seperti yang gue lakukan sekarang.
Subscribe to:
Posts (Atom)
