BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Friday, March 1, 2013

before it burns and gets hotter ;)

Banyak orang yang berusaha untuk mendefinisikan apa itu "MUNAFIK".


Setiap denger kata ini, anak muda pasti langsung menuju pada pikiran tentang seseorang yang pandai bersilat lidah sama teman-temannya, kayak pura-pura baik sama seseorang yang dia nggak suka. Atau tentang orang yang nggak bisa buktiin omongannya sendiri.

Dalam bahasa inggris, ada 2 kata yang bisa mendefinisikan MUNAFIK sendiri, yaitu "hypocrite" dan "two-faced". Sebenernya sekilas bisa memiliki makna yang sama, tetapi sebenernya dua kata ini bisa menjadi dasar gimana munafik itu sendiri digolongkan.

Hypocrite itu adalah suatu sifat dimana seseorang, secara tak sadar sih biasanya, sering memberikan wejangan atau perkataan mulia sama teman-temannya, berupa anjuran, nasihat, petunjuk hidup, tetapi dia sendiri justru melanggar filosofi atau perkataannya sendiri. Contohnya gini, kamu punya temen yang selalu bilang, "jangan nge gosip ah, nggak baik." Tapi dia sendiri adalah orang yang paling semangat kalau temen-temennya lagi ngerumpi.

Sedangkan, two-faced, ya sesuai namanya lah, adalah orang-orang bermuka dua yang gemar memakai topeng tentunya. Mereka ini mungkin sering dikejar kejar agensi sinetron karena pinter akting. Mereka bisa mengubah sikap atau bahkan kayak bunglon, menyesuaikan diri dengan siapa dia berbicara, jadi pendapat orang tentang dia bisa berbeda-beda. Misalkan, di depan si A, dia sosok yang ramah, sopan, mungkin karena si A itu anak beken yang dia agak takuti, tapi kalau di depan B, dia berubah jadi sok eksis, sok iye. sok ide atau sok-sokan lainnya deh , atau di depan sahabat-sahabatnya ia bisa aja ngomongin kejelekan si A, orang yang dia bela-belain sampe harus berperilaku unyu dan baik. Paling parahnya nih, kalau udah tingkat dewa, bisa aja dia saling jelek-jelekin anggota geng nya sendiri ke orang lain *ups*


Meski agak beda, tapi ada satu hal yang menjadi persamaan kedua tipe ini. Yaitu dimana seseorang pasti nggak bisa berperilaku dengana apa yang ada di hati dan pikirannya. Alasannya juga bisa ada dua, loh. Satu karena pencitraan, satu lagi karena ia memang pengen jaga perasaan orang lain.

Gak pengen munafik, gue sebenernya nggak suka bersikap kayak gini, tetapi gue pernah kok. Gue pernah pura-pura friendly sama orang yang gue nggak suka, cuman supaya dia nggak merasa nelangsa aja. Yah, gue juga sebenernya nggak mau juga kalau ada orang lain yang bersikap demikian sama gue, rasanya kan kayak ngeboongin gitu. Tapi, nggak bisa dipungkiri kalau terkadang kita harus begitu, dengan diam-diam menyimpan perasaan tidak suka begitu memang nggak sehat sih, tapi kalau masalahnya cuma sepele, mungkin karena dia agak cerewet, kita harus tetep maklumin kan? Dengan demikian kita bisa belajar untuk memaafkan juga.


Tapi... kalau udah menyangkut pencitraan nih.... itu yang kayaknya udah berat deh. Contohnya, kamu bersikap baik sama semua orang karena pengen eksis atau dianggap beken, termasuk sama orang yang kamu nggak begitu suka sampai orang yang kamu bencinya udah akut parah bener, deh. Dengan demikian kamu berharap agar semua pihak menilai kamu "bersih" karena kamu berusaha untuk memihak siapapun. 


Padahal, siapa yang sebenernya rugi sih? Ya, mungkin kamu pikir itu safe dan sah sah aja selama NGGAK KETAHUAN, kan? Dan sekarang pikir, siapa yang kamu boongin? Nggak cuma temen-temen kamu, kamu sendiri udah ngeboongin diri kamu sendiri karena kamu membiarkan jati diri dan karakter kamu nggak tampak dan berkembang, sebab kamu akan selalu menjadi sosok yang berbeda bagi orang yang satu dengan yang lain. Kamu bagi si A berada di pihaknya untuk melawan B, namun bagi B kamu adalah kawan untuk menyerang A. Jamin deh, kalau suatu saat kamu seperti tupai yang jatuh dari lompatan tingginya, nggak ada lagi yang bakal percaya sama kamu. Siapa yang hidupnya paling menyedihkan? ;)

Gue juga nggak ahli mempraktekkan ini, tetapi sebelum kita dewasa dan sebelum karakter ini tertanam kuat, cobalah bijak menghadapi konflik. Nggak perlu menyalakan api, kalau ada temen yang lagi kesel, ya jangan siram minyak tanah lagi. Blak-blakan kalau perlu, kamu ada di pihak mana. Pilih pihak yang benar. Kalau kamu merasa temen kamu itu salah, ya nasihati, itu tugas seorang sahabat kan? Kalau ada yang menjelek-jelekkan sahabat kamu, kamu tega untuk ikut bersama komplotan mereka? 

Satu hal yang gue pegang teguh hari ini adalah, orang yang baik akan selalu menang. Memang kemenangan itu nggak selalu mudah. Boleh ketawa deh, gue udah nonton banyak film yang mengangkat pesan ini, dan meski gue terlihat seperti muluk-muluk, tetapi gue percaya mereka yang benar akan selalu menang, karena kejahatan itu seperti kentang yang dibawa kemana-mana, suatu saat akan busuk dan baunya pasti akan tercium.


jadi kalau kamu cukup menyayangi dirimu sendiri, janganlah menyia-nyiakan hidup untuk hal yang merugikan diri dan orang lain. masih belum terlambat kok untuk berubah :)



Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. Yakobus 1:8