BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Monday, August 13, 2012

RESULT vs PROGRESS

Finally... setelah sekian lama hampir tenggelam di lautan buku, gue akhirnya bisa nge blog, ngeluapin semua uneg-uneg yang penuuuuuuuuuuh banget di kepala.

Jujur aja hari ini I feel terrible, worn out and even I don't want to explain why. Ditampar, jatuh, keinjek injek dan merasa kayak loser.

Gue kecewa, karena my efforts are useless. Gue usaha setengah mati, nggak ada yang tahu, tapi nyatanya, gue gagal (this time), dan nggak ada yang mau tahu.

Hidup itu menyakitkan, atau nggak adil ya?


Gue tahu, Tuhan punya rencana, dan tahu porsi yang tepat untuk umat-Nya, meski di mata kita nggak adil, tapi Ia udah membaginya sama rata. Dan gw bukan bilang kalo Tuhan nggak adil.... hiduplah yang nggak adil, manusia yang nggak adil.
Kenapa usaha gue yang begitu besar, nggak ada yang peduliin, "hanya" karena gue gagal memberi result yang memuaskan? Gue gak minta apa-apa, setidaknya ada yang bersedia memberi gue semangat dan keyakinan kalo gw masih punya hari esok, bukannya makin menenggelamkan gue dalam kesedihan. Segitu kejamkah sifat asli manusia?

Mungkin....kalian pasti juga pernah ngerasa yang sama, udah belajar setengah mati, siang-malem, pagi-sore, tapi malah mendapat hasil yang betul-betul mengecewakan, di luar dugaan.

Sebenernya, apa yang membuat manusia lebih menghargai result daripada progress? Gue sebenernya bingung, orang-orang terpelajar, guru, bahkan orangtua kita seringkali bilang :" PROSES itu penting, lebih penting dari apapun, jangan lihat hasilnya, tapi PROSES!" Nyatanya, hal itu cuma omongan belaka. Lo dapet nilai jelek, terus guru lo bakal percaya kalo lo bilang "SAYA BELAJAR MATI-MATIAN BU!". Jarang bangeeeeet yang bisa mengerti keadaan lo, sisanya bakal ngasih lo sesi ceramah singkat yang malah menurunkan confidence lo sendiri.

Gue tahu, ini pasti dikarenakan budaya kita yang memang lebih MENYUARAKAN atau lebih tepatnya MEMBANGGKAN suatu hasil daripada proses, mereka pikir bahwa suatu proses yang baik akan mendatangkan hasil yang baik pula, ya kalimat matematikanya ya seperti ini: PROSES BERBANDING LURUS DENGAN HASIL. Contohnya, selama ini kita menggunakan ijazah untuk melihat keberhasilan seseorang di masa sekolah, begitu liat ada yang NEM nya tinggi, kebanyakan dari kita langsung berasumsi kalau mereka memiliki 3 tahun masa sekolah yang baik, prestasi mulus dan lancar. Padahal, siapa yang tahu? Banyak kok kejadian anak-anak yang waktu sebelum UAN nilainya acakadut, terus pas mau deket-deket UAN mereka fighting, belajar giat sampe akhirnya bisa jadi nomer 1. Dan ada juga orang yang dari kelas 1 nilainya mulus-mulus, tapi pas UAN malah bisa nggak lulus! Darimana kita bisa tahu kalo result mereka benar-benar menggambarkan proses? Oke untuk case pertama kita bisa melihat kalau proses yang dilakukannya itu terjadi secara instan, karena memang adanya keinginan  untuk lulus. Terus, untuk case ke dua, memang dia gagal di UAN, tapi apa kita bisa nge-judge kalo ia bodoh? Kalau ia selama ini nggak serius sekolah?

Ada beberapa faktor yang membuat suatu proses justru berlawanan sama result, dulu guru SMP gue suka bilang itu namanya FAKTOR X. Contoh: masalah psikologis, kurangnya confidence, kondisi fisik, dan lainnya. Dan faktor-faktor ini memang seringkali dijadikan alasan atas kegagalan seseorang. Tapi siapa yang tahu, siapa yang dapat menyangka dan siapa yang INGIN mengalami hal-hal tersebut? Kadang faktor-faktor itu datangnya tak terduga, lalu siapa yang mau disalahkan?

Disini gue bukannya mau belain diri gue sendiri, terlebih karena GUE KECEWA karena merasa nggak ada yang bisa mengerti, memahami dan mempercayai kalo gue BERUSAHA. Gue cuma mau menggambarkan kalau sekarang ini manusia semakin nggak menghargai progress, karena ya seperti gue bilang, paradigma mereka udah dikuasai oleh keyakinan bahwa suatu hasil yang baik berasal dari proses yang baik pula.

Gue cuma mau tanya,

kalau misalkan kalian ada di posisi, dimana kalian udah berusaha, berdoa, berserah,
terus jatuh, gak berhasil (meski untuk kali itu saja),
bisakah kalian mencari siapa yang salah?


Diri sendiri? Padahal kan udah usaha. Tuhan? Nggak mungkin.


Terus siapa yang salah?




Mungkin jawabannya cuma satu.





Itulah rencana Tuhan, He plans, He decides as His will upon us to be fulfilled. Mungkin kita harus mengambil pelajaran..... ya, seperti yang gue lakukan sekarang.